"Boleh aku minta sesuatu?" suaraku pelan, tertransmisikan menjadi sinyal-sinyal listrik berfrekuensi audio yang diantar oleh handphone di tanganku. Kubayangkan suaraku berbisik di telinganya.
"Apa?" jawabnya singkat. Aku tersenyum. Senyum yang pasti tidak terlihat olehnya.
"Bawakan aku sepiring mie goreng buatanmu, boleh?"
"Mie goreng? Buat apa?
"Ya dimakanlah. Masa dibingkai?" kataku tertawa.
"Kalo gitu nanti aku singgah di warung dekat rumah." katanya.
"Jangan!" sergahku cepat. "Aku mau buatanmu. Mie instant sekalipun tidak masalah. Asal buatanmu" kataku sambil nyengir.
"Kamu tuh aneh, yaa!!" katanya lagi.
"Kalo gak mau ya gak apa2. Gak maksa kok." kataku merajuk.
"Siapa yang bilang gak mau? Aku cuma bilang kamu aneh." katanya tertawa.
"Aku kan jarang minta apa-apa. Mie instant aja, kamu nya kayak gitu." kataku cemberut.
"Ih, ngambek? Iya deh. Nanti aku bawakan mie goreng spesial buatanku. Khusus buat kamu. gak ada di mana pun" katanya cengengesan.
"Asyiiik...!!! Can't wait" kataku.
"I'll be there soon" katanya.
Clik. Tutututut.....
*sebuah cinta monyet sebelum patah hati pertama

Tidak ada komentar:
Posting Komentar