Kamis, 24 Oktober 2013

Aku Menangkapmu!!


Terlalu mudah membaca isyaratmu. Sekalipun kata-kata tak terucap itu dikonversi ke dalam bilangan binari, aku yakin, aku masih bisa mengerti. Dan sialnya, seorang dengan tipikal analitis sepertimu tidak bisa berpura-pura, seakan-akan tak membaca gerakku. Untuk menyamar menjadi idiot, binar matamu terlalu cerdas, Jeniusku!!

Aku menangkapmu sedang memindai beberapa hal tentangku. Lalu memasukkanku ke dalam beberapa kotak-kotak asumsi kemungkinan. Kau sedang berusaha menyimpulkan tipikalku. Aku menangkapmu!!

Tidak semua yang kita tahu, harus kita 'Utara'-kan!! Masih ada 'Selatan', masih ada 'Timur', masih ada 'BaratDaya'.

Kita adalah musafir yang selalu haus petualangan...
Kita adalah cinta yang berjihad melawan waktu!!!

Rabu, 11 September 2013

There is A Reason

 
Apakah benar tak ada kebetulan di dunia ini? Daun yang gugur, kepak sayap burung, badai, dan segala gerak yang terjadi memiliki makna? Tiap gerak memiliki alasan? Saya bertemu banyak orang, dengan ragam budaya dan tutur kata. Tak ada kebetulan kah di sana? Gerak mempertemukan kami dalam lingkaran dan saling berbagi.

Bertemu sejatinya adalah untuk berpisah. Saling meninggalkan kesan. Sebagian orang datang dan sekedar berlalu. Meninggalkan nama yang mungkin akan terlupa. Tapi beberapa orang meninggalkan beberapa jejak di hati. Menggoreskan kenangan pada dinding hati. Beberapa goresan mungkin kelak menjadi debu yang tak lagi diingat, tapi sebagian memberikan parutan yang membekas.

Saya tak pernah meragukan sebuah pertemuan yang membuat saya akan terus mengingatnya dan mengenangnya sebagai kawan yang baik. Saya meyakini berkenalan dengan orang-orang itu hadir dengan jelas alasannya. Membuat kami menjadi kawan. Saling berpelukan ketika berpisah, sedih, tapi tak ada rasa sakit di hati.

Yang selalu menyita pikiranku adalah orang-orang yang dipertemukan dengan diri kita, yang kemudian membuat goresan yang cukup menyakitkan. Ribuan mengapa menggantung memenuhi pikiran? Mengapa harus bertemu dengannya? Mengapa harus mengenalnya? Saat bersinggungan di jalan yang sama-sama kita lewati, kesan-kesan kemudian bermunculan. Beberapa orang langsung mendapat cap negatif. Kemudian kita menjauhinya. Mendekatkan diri pada orang lain yang menarik perhatian. Yang mendapatkan respon positif terhadap otak. Cap-cap itu menyelamatkanmu dari ketidakperluan untuk saling mengenal lebih jauh.

Dan kemudian kita memilih untuk berinteraksi dengan orang yang mendapat respon positif. Bergerak bersama, berbagi, dan berkompromi. Ada saat di mana kita terlanjur cinta, tapi jalan setapak yang kita lalui bercabang dan orang-orang tersebut memilih jalannya sendiri. Kita tak lagi saling beriringan. Kemudian ada lubang yang menganga di hati. Ada sakit yang menggores dindingnya. Lantas, apa alasan dari pertemuan itu?

Pertanyaan-pertanyaan ini sudah muncul sejak semula manusia ada dan berinteraksi. Bertemu dan berpisah. Ribuan mengapa di langit untuk mencari tahu mengapa kita bertemu dengan orang-orang yang pada akhirnya menyakiti kita? Sangat mudah menemukannya di lirik lagu hingga tweet dan status media sosial sekarang ini.

Sejatinya kita paham alasan mengapa harus bertemu dengan mereka. Mengapa mereka terpilih untuk menyakiti hati kita. Tapi hati kita menafikan jawaban itu. Jawaban yang menjelaskan bahwa hidup tak melulu memberikan permen kapas manis yang lumer di mulut. Tapi juga mengajarkan asam dan pahit. Manusia, khususnya saya, terlalu egois untuk mendapatkan semua permen-permen manis. Hidup menawarkan lemon yang asam. Tak perlu mengutuki rasa masamnya, yang saya butuhkan hanyalah mengubah lemon itu menjadi suatu yang menyenangkan. Dan mengubah itu menjadi perkara yang lain pula.

Real life sepertinya lebih fiksi dari fiksi itu sendiri. Dan saya adalah salah satu aktor dramanya. Seorang teman berkata, sebenarnya tak ada perpisahan. Yang ada hanyalah orang-orang itu menghilang. Mengutip qoute yang entah dibuat oleh siapa, Don't force things, let life decide what happens. If it's meant to be, then it will be. Just wait and see. Saatnya membuat lemonade dan menjualnya :).


Selasa, 25 Juni 2013

TANPA ALASAN


Bisakah kita tersenyum lepas saja??
Tanpa bertanya apa yang lucu, atau takut dituduh gila
Aku ingin pengalaman.. bukan penjelasan!!

Bisakah kita berlari saja??
Pergi ke suatu tempat yang entah itu di mana
saat ini juga, tanpa perlu banyak kata
Aku ingin perjalanan.. bukan percakapan!!

Kamis, 20 Juni 2013

SENI


REBORN karya Yarno

Saya tidak tahu seni lukis. Sama sekali tidak tahu. Tetapi saya bisa merasakan 'keindahan' suatu lukisan. Dan seperti itulah kebanyakan seni... ia kadang-kadang tak perlu diketahui. Ia cuma perlu: dirasakan!!

Rabu, 19 Juni 2013

NEGERI YANG BERTENDENSI



Lima dekade silam, Indonesia menjadi rebutan sengit antara dua paham yang saling kontradiksi; sosialis-komunisme dan liberalisme. Sosialis-komunisme memburuk-burukkan liberalisme dengan asosiasi picik bahwa liberalisme adalah Barat, dan Barat adalah penjajah. Dengan kata lain, liberalisme adalah jalan menuju neo-kolonialisme. Sementara leberalisme memanfaatkan penolakan masyarakat Indonesia terhadap konsep atheis-nya komunisme. Bahwa Indonesia adalah negeri ber-Tuhan, maka tak boleh ada tempat bagi komunis.

Akan tetapi, situasi Indonesia pada waktu itu tampaknya lebih menguntungkan paham yang pertama. Situasi sosial misalnya, di mana masyarakat Indonesia yang kebanyakan buruh dan pekerja jelata tentu saja sangat merasa klop dengan sistem sosialis yang banyak memperjuangkan nasib mereka. Dari sisi politik, Soekarno sebagai Commander in Chief di Indonesia memiliki kepentingan tersendiri terhadap RRC (Republik Rakyat Cina), negeri yang menjadi basis komunisme. Kepentingan itu salah satunya yakni hasrat untuk membentuk The New Emerging Force. Tetapi pada tahun 1965, PKI (Partai Komunis Indonesia) yang merupakan perpanjangan tangan komunisme di Indonesia melakukan kudeta dengan jalan bengis. Kontan saja, pihak-pihak yang sudah lama menahan geram mempunyai alasan untuk melampiaskan kemarahannya kepada partai berlambang palu-arit itu. Dalam waktu sekejap, segala yang berbau komunisme dibersihkan dengan jalan yang tak kalah keji. Saat itulah liberalisme mendapat angin segar di Indonesia. Alhasil, banyak sistem yang ada di Indonesia tampak sebagai akulturasi antara sosialis-komunisme dan liberalisme. Lihat saja sistem ekonomi yang kita anut, bukan sistem sosialis, bukan pula liberal, tetapi di tengah-tengahnya.

Sosialis-komunisme mungkin tak punya celah pengaruh lagi di Indonesia. Tapi liberalisme malah semakin kuat dari hari ke hari. Rasa-rasanya, hal ini sedikit demi sedikit akan menggusur sistem yang berada di tengah-tengah tadi ke arah liberalisme. Saksikanlah bagaimana sikap lepas tangan pemerintah terhadap nasib rakyat jelata yang tak diliput media. Bagaimana universitas-universitas negeri di-BHMN-kan dengan alasan-alasan pragmatis. Bagaimana dibiarkannya perusahaan-perusahaan asing yang mengelola SDA (Sumber Daya Alam) Indonesia. Bagaimana banyaknya perusahaan-perusahaan strategis yang didivestasi ke tangan asing. Bagaimana sistem kerja kontrak yang ditolak pekerja kukuh bertahan.

Kenapa kita menjadi bangsa yang mudah sekali terombang-ambing? Saya teringat waton jeplak-nya kawan se-angkatan. Katanya, orang Indonesia adalah orang-orang dengan gen campuran dari berbagai rumpun, bukan gen asli. Ketika mereka kawin dengan orang Barat, anaknya lebih mirip Barat. Ketika menikah dengan orang Arab, anaknya lebih terlihat berwajah Arab. Ketika berselingkuh dengan orang Cina, anaknya lebih bermuka Cina.

Jumat, 14 Juni 2013

CINTA ALA SUFI


Seandainya CINTA adalah API... jadilah IBRAHIM!!!
Tembus, lewati, tapi jangan terbakar.

Jika CINTA adalah LAUT MERAH... jadilah MUSA!!!
Belah, seberangi, jangan sampai tenggelam.

Namun, kalau ternyata CINTA adalah POHON KHULDI... Jangan sekali-kali menjadi ADAM!!!
Demi Allah... Kau tidak akan mampu!!!


BELAJAR DENGAN CARA ALI


Suatu waktu, Ali yang saat itu masih bernama Cassius Clay dipanggil oleh gurunya. "Clay! Kamu itu bandel banget! Bapak yakin, kalo kamu besar kamu nggak jadi apa-apa. Kamu sampah masyarakat!"

Sepuluh tahun kemudian, Ali memenangkan Olimpiade. Ia mendapatkan medali emas. Setiba di rumah, Ali membawa medali emasnya itu keluar, menuju ke rumah gurunya. Ia mengetuk pintu rumah gurunya lalu menyerahkan Medali Emas Olimpiade.

"Bapak, ini hasil ucapanmu!" kata Ali. Ternyata, ucapan gurunya itu membekas di hati Ali. Ia ingin menjadi 'seseorang'. Jika ia capek latihan, ia selalu teringat kata-kata gurunya. Ia menjadikan ucapan gurunya itu sebagai pelecut.

Guru itu langsung menangis dan memeluk Ali.

Senin, 10 Juni 2013

MALAM MINGGU


Selamat malam, Kamu! Apa kabar? Ini malam Minggu. Magrib baru saja berlalu. Seperti biasa, aku belum mandi. Aku sedang libur. Gak ada rencana yg spesial. Kamu gimana?

Oh ya, beratku nambah 3 kilogram. Dan aku masih menyukai malam. Kamu masih suka cerita bintang2, kan? Berikan 1 cerita mereka, donk!

Aku juga masih suka musik2 aneh, lucu, syahdu.. tapi masih gak doyan karaoke. Tetap suka film action, suka gak pulang malam. Kamu punya cerita baru apa?

Wah.. tiba2 perutku mules, nih! Aku 'bongkar' dulu, ya! Sekalian mandi. Aku kangen kamu...


(Depan Rumah, Malam Minggu, 08 Juni 2013, sepulang solat magrib dari mesjid)

Rabu, 05 Juni 2013

MENGGAMBAR AYAH

PADA umur sepuluh tahun, aku suka melompati jendela kamar ketika datang malam dan kemudian tidur telentang di belakang rumah. Di situ aku bisa berpikir tentang apa saja tanpa rasa takut bahwa gaung pikiranku akan tertangkap oleh pendengaran ibu. Aku sering berpikir bahwa mestinya ibu tidak usah membenciku. Akan lebih baik sekiranya ia mencintaiku seperti ibu-ibu yang lain mencintai anaknya. Tetapi rupanya ibu lebih suka membenciku.

Perseteruanku dengan ibu sudah dimulai bahkan ketika usiaku baru empat bulan dalam kandungannya. Ibu menghendaki supaya aku jangan pernah nongol sama sekali dari rahimnya. Ia menyorongkan segala jenis obat-obatan ke dalam perutnya untuk menggodam kepalaku, melubangi paru-paruku, melemahkan jantungku, dan meracuni pertumbuhanku di dalam rahimnya. Karena itulah aku justru berdoa sepanjang siang sepanjang malam agar diberi kekuatan untuk bertahan dari upaya-upayanya memberangus kehadiranku. Selain itu, aku juga memohon pertolongan kepada teman-temanku - makhluk-makhluk putih yang diperintahkan untuk menjagaku - agar mereka membantuku menahan gempuran-gempuran yang dilancarkan perempuan itu.

"Kau pikir, kenapa perempuan itu ingin melumatku?" tanyaku kepada mereka.

"Ia takut melahirkan serigala," jawab salah satu.

"Ia menganggapku seekor serigala?"

"Perempuan itu mendapatkanmu dari jalanan."

"Karena itu aku dianggapnya serigala?"

"Karena itu kau dianggapnya serigala."

Itu bukan salahku. Aku ingin memprotes. Tetapi temanku bilang bahwa perempuan itu tidak peduli apakah aku salah atau tidak. Ia hanya tidak ingin membesarkan benih yang menerobos ke dalam rahimnya dari pipa lelaki jalanan.

"Tapi itu salahnya!" jeritku. "Ia sendiri menyukai jalanan. Bukankah ia selalu melenggang di daerah-daerah di mana lelaki menggelepar di sembarang tempat?"

Aku membayangkan beribu-ribu lelaki menggelepar di semak-semak, bagai ular yang sedang mengintip mangsa. Mungkin ibuku dipagut ular-ular itu dan kemudian tumbuh benih di dalam rahimnya. Tumbuhlah aku.

Mungkin karena malu perutnya makin besar, ibuku lalu ingin merontokkan benih itu. Alangkah jahatnya. Bagaimanapun aku harus lahir, tidak peduli bentukku nanti akan seperti apa. Bila nanti sudah kuat badanku, akan kutampar ibuku agar ia tahu kesalahannya.


TEMAN-temanku membangun benteng yang liat untuk melindungiku. Di depan benteng itu mereka berjaga-jaga. Sekuat-kuatnya mereka menghalau racun yang membidik nyawaku. Meski benteng yang melindungiku sangat kukuh, dan teman-temanku tak pernah lalai menjagaku, kadang-kadang ada juga racun yang lolos dan berhasil menyentuh kulitku. Tubuhku panas sekali dan mataku pedih setiap kali ibuku menjebloskan obat ke dalam perutnya. Dari hari ke hari obat yang ditelannya semakin kuat.

"Kelihatannya aku tak mampu lagi melindungimu," kata makhluk putih suatu ketika. "Tapi aku tidak akan pernah meninggalkanmu."

Aku terharu oleh kesetiaannya. Temanku itu memang kelihatannya sudah kepayahan. Tubuhnya yang putih mulai berubah kebiru-biruan. Tapi teman yang baik tidak pernah menghitung keselamatannya sendiri. Aku kasihan melihatnya. Temanku yang satu lagi masih lumayan. Dia lebih kuat daya tahannya. Hanya kepalanya saja yang agak pening.

"Kuharap kau sendiri masih kuat," katanya kepadaku. "Tinggal setengah bulan lagi."

Setengah bulan terlalu lama. Tiga hari setelah itu aku memberontak keluar dari perut ibu. Kubilang kepada teman-temanku, aku sudah tidak kuat lagi. Kuminta kepada mereka untuk mendesakku keluar.

"Kau siap?" tanya mereka.

"Mungkin tidak. Tapi ia terus menghujaniku dengan racun. Aku ingin keluar saja," jawabku.

Mereka mendorongku keluar. Tangisku merobek nyali ibu. Ia pingsan setelah melahirkanku. Kepalaku tidak bagus bentuknya, kedua mataku melotot besar, dan tanganku panjang sebelah. Setelah siuman, ibu membesarkanku dengan rasa marah. Ia menjadi angin puting beliung yang membanting-banting aku. Aku merasa kesepian karena makhluk-makhluk putih tidak lagi berada di sebelahku.

Kupikir mereka kembali lagi ke langit. Karena itu ketika malam jatuh, aku suka melompati jendela dan tidur-tiduran di belakang rumah memandang langit. Aku rindu kepada teman-teman yang menjagaku. Mungkin satu ketika mereka akan tampak di antara bintang-bintang. Melompat-lompat dari bintang satu ke bintang yang lain. Kepada bintang-bintang di langit aku berpesan. "Bila kalian melihat teman-temanku, suruh mereka datang ke rumah. Masuk saja lewat atap rumah, jangan sampai ketahuan Ibu."

Setelah berpesan demikian biasanya aku masuk lagi lewat jendela yang sama. Di kamar, kubenturkan pandanganku pada langit-langit ruangan sambil terus berharap bahwa teman-temanku akan meluncur dari bubungan atap menemuiku. Tapi biasanya di langit-langit kamar aku hanya bisa menemukan kecoak. Kau tahu, makhluk ini tidak pernah menjadi teman bagi manusia, karena tidak ada manusia yang sudi berteman dengan kecoak. Ibuku juga tidak suka pada kecoak; ia selalu mencopot sandalnya jika melihat seekor kecoak melintas dan memukul-mukulkan sandal di tangannya sampai binatang itu pecah tertampar sandal.

"Kenapa kau tidak melakukan protes?" tanyaku padanya suatu hari.

"Apa yang bisa diprotes?" ia balik bertanya dengan nada sengit.

"Kalian selalu dibunuh tanpa salah.”

“Karena kami kecoak.”

"Begitukah?"

"Kau juga kecoak."

"Aku manusia."

"Bagi ibumu, kau adalah kecoak."

"Kau menghinaku. Ibuku menganggap aku serigala."

"Kau hanyalah kecoak."

"Aku ingin membunuhmu karena kau menghinaku."

Aku betul-betul ingin membunuhnya. Sebab kecoak tidak boleh menghina manusia. Aku melesat ke langit-langit memburu kecoak itu. Ia terbang. Aku melompat-lompat dari tempat tidur ke meja, dari meja ke dinding, dan kemudian dari dinding ke dinding. Kecoak dan aku saling berkejaran menimbulkan suara berdebam-debam.1)

Ibu mendobrak daun pintu kamarku dan menghantamkan caci maki ke telingaku. Mulutnya menyemburkan badai dan bau alkohol. Sebetulnya aku ingin bilang padanya, "Kenapa ibu selalu datang membawa badai kepadaku?" Tapi badai tak pernah bisa disela oleh pertanyaan apa pun. Ditamparnya aku dengan sandal hingga terpelanting. Kecoak yang kuburu terbang keluar kamar.


IBU tidak pernah tahu bahwa aku selalu rindu kepadanya. Bila aku mau, sebetulnya bisa saja aku menyelinap ke kamarnya ketika dia tidur, lalu kucekik batang lehernya. Tapi aku tidak mau melakukan itu. Aku orang yang rindu. Rindu kepada apa saja. Kepada bintang-bintang, kepada kecoak di langit-langit kamar, kepada makhluk-makhluk putih yang telah menyelamatkanku, dan kepada tangan ibu.

Aku rindu tangan ibu di atas dahiku, dan kemudian tangan itu bergerak pelan-pelan mengelusku sampai aku tertidur. Tidak pernah ia melakukan itu. Rasa rindu menjadi racun yang menyumbat jalan darahku. Kadang-kadang nafasku terasa sesak. Mungkin racun itu telah pula menyumbat jalan nafasku.

Aku juga rindu kepada ular-ular. Salah satu dari mereka pasti bapakku. Aku ingin menyapa mereka dan mengatakan, "Selamat pagi, Pak. Ini aku anakmu. Kulihat rambutmu sudah banyak beruban. Aku ingin mencabuti ubanmu agar kau kelihatan lebih muda. Atau kau ingin kubikinkan minuman?"

Ibu tidak pernah memperkenalkan benda yang bisa dipanggil bapak kepadaku. Seandainya suatu hari ia membawa seorang laki-laki dan bilang bahwa lelaki itu adalah bapakku, aku akan sangat berbahagia. Mungkin ia seorang lelaki yang suka membunuh perempuan dan mengisap air liurnya agar memperoleh ilmu kesaktian 2), atau mungkin ia orang yang suka menampar orang lain ketika mabuk. Tak apalah. Yang penting ada orang yang bisa kupanggil bapak. Aku sudah mempersiapkan diri untuk memanggil bapak kepada siapa pun yang dibawa oleh ibu.

Tapi orang yang bisa kupanggil bapak itu tak pernah datang. Agaknya ibu tidak pernah berpikir untuk memberiku seorang bapak. Maka aku membikin sendiri bapakku. Di kamarku, aku menggambar sebatang penis. Panjang seperti ular. Aku sebenarnya menggambar bapakku. Ia melingkar membelit dinding-dinding kamarku. Setiap hari menjelang tidur aku bercakap-cakap dan mengadu kepadanya. Kulihat kepalanya berdenyut-denyut. Ia hidup. Ia bicara. Ia menanggapi semua keluhanku.

Gambar itu kemudian menjadi apa saja. Ia tidak hanya menjadi bapakku, tetapi juga guruku. Aku belajar tentang apa saja dari dia. Belajar bagaimana menyalurkan kehendak, belajar memberontak, dan belajar mempertahankan keinginan. Aku belajar cara mendesakkan keinginan dari gambar penis yang menjulur di dinding kamarku.3)

Makin hari rasanya kami menjadi semakin dekat. Aku dan gambar itu. Aku ingin dia menemaniku di mana pun aku berada. Aku ingin selalu berdekatan dengan bapakku sehingga ia bisa selalu mengawasi pertumbuhanku. Bapak yang baik katanya harus bisa menjadi ayah, guru, dan kawan bermain bagi anaknya. Kalau aku ingin bapakku menjadi kawan bermain, aku menggambarnya dalam ukuran kecil. Bila aku ingin ia menjadi guruku, aku menggambarnya dalam ukuran besar.

"Kau harus selalu di sampingku, Bapak," kataku. "Kau harus mengawasi pertumbuhanku. Banyak anak-anak yang kehilangan jalan karena terus-menerus ditinggal bapaknya. Aku tidak mau menjadi anak yang hilang jalan."

Agar ia selalu dekat denganku, maka aku pun menggambarnya di mana-mana dalam berbagai ukuran. Kadang-kadang kupasangkan dasi pada lehernya. Aku senang sekali melihat ia mengenakan dasi, ia tampak seperti orang kantoran. Kadang-kadang kupasangkan kumis di atas mulutnya. Ia tampak berwibawa dan mirip seorang kepala negara.

Sebentar saja dinding rumahku sudah sesak oleh gambar bapakku. Lantas aku menggambari semua dinding yang ada di hadapanku. Anak-anak lain senang melihat aku menggambar muka bapakku di mana-mana. Aku terus berjalan menyusuri tembok-tembok kota. Anak-anak yang menguntitku makin banyak. Kuperkenalkan satu per satu mereka pada bapakku. Mereka tertawa terkekeh-kekeh.

Aku senang melihat mereka terkekeh-kekeh.

Tapi tidak setiap orang suka melihat anak-anak tertawa. Satu hari seseorang marah kepadaku karena aku dianggap mengotori temboknya. Disemburnya aku dengan maki-makian, aku diam saja.

"Anak gila! Di mana otakmu?" hardiknya.

Aku benci sekali kepadanya. Kupikir dialah yang gila. Aku menggambar bapakku, kenapa dia marah?"

"Kamu boleh juga menggambar bapakmu sendiri. Jangan marah-marah kepadaku," aku membalas hardikannya.

Ketika dia menghapus gambar yang kubikin, aku tidak bisa mendiamkannya. Aku tidak suka perbuatannya. Ia ingin memisahkan aku dari bapakku. Maka kutampar mukanya. Hanya itulah hadiah yang pantas bagi orang yang menggangu urusan rumah tangga orang lain.

"Kalau kau pisahkan lagi aku dengan bapakku, aku akan menamparmu lebih keras."

Aku senang sekali bahwa rupanya ia kapok berurusan dengan aku. Harus kau ingat ini, terhadap orang yang tidak mau memahami orang lain, kita kadang-kadang memang harus berlaku keras. Itulah yang aku ajarkan kepadanya agar ia bisa menghormati kebahagiaan orang lain. Setiap orang tidak boleh hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri.

Namun orang itu rupanya cukup licik. Ia lapor ke ibuku. Dan ibu menggamparku berkali-kali setelah peristiwa itu.

"Anak gila! Di mana otakmu?" ia menirukan orang yang baru aku tampar.

"Aku menggambar bapakku," jelasku. "Kenapa kau memukulku?"

Ia menatapku seperti melihat onggokan sampah. Aku melihatnya juga seperti melihat onggokan sampah. Bila aku mau, bisa saja nanti malam aku menyelinap ke kamarnya dan mencekik lehernya sampai mampus.

"Bila aku mau, bisa saja nanti malam aku menyelinap ke kamarmu dan mencekik lehermu," kataku. "Kenapa kau tidak lari saja ke puncak gunung?"

Mataku berpijar bagai sumbu granat. Aku bisa meledak saat itu juga dan menghancurkannya.

"Aku ingin kau menyelamatkan diri ke puncak gunung," saranku lagi.

Aku harus bilang itu kepadanya. Aku adalah orang yang rindu kepada apa saja. Tapi ibu tidak tahu bahwa aku merindukannya. Dulu ia berpikir bahwa ia akan melahirkan serigala dari rahimnya. Menurutku, ia harus hati-hati terhadap pikirannya sendiri karena pikiran buruk bisa mencelakakan diri sendiri. Jadi biarlah ia pergi ke puncak gunung saja. Kupikir itu jalan yang terbaik baginya. Bila esok pagi matanya masih bertumbuk dengan mataku, aku akan mencekik lehernya. Sebab, tak bisa aku terus-terusan melihat onggokan sampah di dalam rumahku.

Keesokan paginya, ibu merangkak ke puncak gunung.4) Aku tetap menggambar ayah di mana-mana, tetap tidur di belakang rumah ketika gelap turun, dan tetap kangen kepada ibu. Kini aku suka bercakap-cakap dengan puncak gunung yang tampak dari jendela kamarku. Di sana ada ibuku. ***

Catatan:

1) Salah satu tokoh dalam cerpen Orez karangan Budi Darma adalah seorang perempuan hamil yang melompat-lompat dalam kamarnya, dari lantai ke meja wastafel, ke kakus, ke bibir rak, dan seterusnya.

2) Dari berita di koran-koran tentang seorang dukun di Deli Serdang yang membunuh 42 perempuan dan mengisap air liurnya agar ilmunya makin sakti. Menurut pengakuannya, ilmunya akan sempurna jika ia sudah membunuh 70 orang.

3) Dalam cerita pewayangan, seseorang bernama Bambang Ekalaya ingin berguru kepada pendeta Dorna tetapi ditolak karena ia bukan keturunan bangsawan. Ekalaya lantas membuat patung Dorna dan belajar memanah di bawah tatapan patung tersebut sampai ia kemudian menjadi pemanah yang sakti.

4) Dalam kitab suci, anak Nabi Nuh tidak mau naik bahtera bapaknya dan memilih lari ke puncak gunung untuk menghindari banjir besar.


Mampang Prapatan, Mei 1997.
AS. LAKSANA

Cerpen ini pertama kali dimuat di Kompas Minggu, 9 November 1997.

Selasa, 04 Juni 2013

MALAIKAT BERNAMA IBU



Air mata itu tumpah juga, Ibu! Ketika malaikat gagah yang diutus menjadi imam bagimu, akhirnya Tuhan panggil kembali, untuk menggenapi bilangan takdir. Ayahku meninggal dunia pada 7 April 2004, pada sepertiga malam yang kedua. Aku tahu hatimu hancur, Ibu. Sangat hancur!!! Saat itu aku bersumpah: Nanti... saat aku punya matahari di tangan kananku, rembulan di tangan kiriku, akan ku kuberikan padamu demi tak kulihat lagi air mata itu.

Rupanya, Kau pun malaikat, Ibu! Kau tidak meminta langit kepadaku. Kau cuma ingin aku menjadi anak yang baik. Anak yang tidak lupa kepada tuhan. Sederhana sekali! Tapi sebagai iblis kecilmu, kadang-kadang hal itu malah kulanggar. Maafkan aku, Ibu... MAAFKAN AKU!!!

Maka kucoba mengambil hatimu, Ibu. Sebagai makhluk yang masih abu-abu, kutegakkan takbir mengimami solat jenazah ayahku. Tak kuizinkan pejabat-pejabat itu, kiai-kiai itu, bahkan dosen-dosen kolega ayahku itu, untuk berdiri di depanku. Tak boleh!!! Mereka harus menjadi makmum-ku hari itu. Lalu kulihat Kau tersenyum, Ibu. Masih dengan air mata. Kulihat ayah pun tersenyum. Tanpa air mata. Apakah Kalian telah memberikan ridho padaku?? Dalam senyum itu jelas kubaca: Ini lebih berharga daripada dunia dan isinya!!!

Kau adalah malaikat, Ibu! Hari-hari selanjutnya terasa menjadi lebih keras. Beberapa hal membuat air matamu itu tumpah lagi. Lebih sering oleh nestapa. Kadang-kadang juga karena bahagia. Lalu diam-diam kulihat Kau menjadi lebih sering mengadu dalam Dhuha dan Tahajjudmu. Kau mengandalkan tuhan untuk tiap hidup dan matimu. Kalau sudah begitu, nestapa mana lagi yang sanggup menantangmu???

Ibuku itu adalah seorang wanita yang pandai membungkus surga, lalu membawakan untukku taman-tamannya dalam hal-hal sederhana...

Senin, 03 Juni 2013

DIFERENSI ORIENTASI

Bidang apa yang selayaknya diberi perhatian khusus dalam hidup ini? Pertanyaan ini tampaknya sederhana. Namun, dari padanya akan timbul jawaban yang beranekaragam.
 
Kalau yang ditanya seorang DOKTER, dapat dipastikan ia akan menjawab: KESEHATAN. Untuk melakukan apapun, kita harus sehat dahulu. Lain halnya jika yang ditanya seorang PEDAGANG. Ia mungkin menjawab: EKONOMI. Kita perlu uang untuk membeli makanan2 bergizi, agar sehat tentunya. Seorang TENTARA bisa saja menjawab: KEAMANAN. Situasi kondusiflah yang memungkinkan pasar beraktivitas, sehingga perputaran uang berlangsung. Sekarang tanyalah ULAMA! Dengan fasih akan dijawabnya: AGAMA. Untuk mengabdi kepada Tuhanlah hidup ini sesungguhnya ditujukan. Di luar itu, semua adalah duniawi; fana. Kini ajukan pertanyaan itu kepada seorang DOSEN! Dengan analitis ia mungkin berkata: PENDIDIKAN. Ilmu adalah cahaya agar agama tak melulu dogma. Ilmu lah yg melahirkan teknologi dan peradaban.

Jawaban manakah yang paling benar??? SEMUANYA BENAR!! Tetapi, 'benar' dalam konteks ini bukanlah sesuatu yang fragmental. 'Benar' di sini adalah suatu kompleksitas yang integral. Kalaupun ada perbedaan, sesungguhnya itu berasal dari DIFERENSI ORIENTASI.

Yang terpenting janganlah menjadi bingung atau saling menyalahkan.