Apakah benar tak ada kebetulan di dunia ini? Daun yang gugur, kepak
sayap burung, badai, dan segala gerak yang terjadi memiliki makna? Tiap
gerak memiliki alasan? Saya bertemu banyak orang, dengan ragam budaya
dan tutur kata. Tak ada kebetulan kah di sana? Gerak mempertemukan kami
dalam lingkaran dan saling berbagi.
Bertemu sejatinya adalah
untuk berpisah. Saling meninggalkan kesan. Sebagian orang datang dan
sekedar berlalu. Meninggalkan nama yang mungkin akan terlupa. Tapi
beberapa orang meninggalkan beberapa jejak di hati. Menggoreskan
kenangan pada dinding hati. Beberapa goresan mungkin kelak menjadi debu
yang tak lagi diingat, tapi sebagian memberikan parutan yang membekas.
Saya
tak pernah meragukan sebuah pertemuan yang membuat saya akan terus
mengingatnya dan mengenangnya sebagai kawan yang baik. Saya meyakini
berkenalan dengan orang-orang itu hadir dengan jelas alasannya. Membuat
kami menjadi kawan. Saling berpelukan ketika berpisah, sedih, tapi tak
ada rasa sakit di hati.
Yang selalu menyita pikiranku adalah
orang-orang yang dipertemukan dengan diri kita, yang kemudian membuat goresan yang cukup menyakitkan. Ribuan mengapa menggantung memenuhi
pikiran? Mengapa harus bertemu dengannya? Mengapa harus mengenalnya?
Saat bersinggungan di jalan yang sama-sama kita lewati, kesan-kesan
kemudian bermunculan. Beberapa orang langsung mendapat cap negatif.
Kemudian kita menjauhinya. Mendekatkan diri pada orang lain yang menarik
perhatian. Yang mendapatkan respon positif terhadap otak. Cap-cap itu
menyelamatkanmu dari ketidakperluan untuk saling mengenal lebih jauh.
Dan
kemudian kita memilih untuk berinteraksi dengan orang yang mendapat
respon positif. Bergerak bersama, berbagi, dan berkompromi. Ada saat
di mana kita terlanjur cinta, tapi jalan setapak yang kita lalui bercabang
dan orang-orang tersebut memilih jalannya sendiri. Kita tak lagi saling
beriringan. Kemudian ada lubang yang menganga di hati. Ada sakit yang
menggores dindingnya. Lantas, apa alasan dari pertemuan itu?
Pertanyaan-pertanyaan
ini sudah muncul sejak semula manusia ada dan berinteraksi. Bertemu dan
berpisah. Ribuan mengapa di langit untuk mencari tahu mengapa kita
bertemu dengan orang-orang yang pada akhirnya menyakiti kita? Sangat
mudah menemukannya di lirik lagu hingga
tweet dan status media sosial sekarang ini.
Sejatinya
kita paham alasan mengapa harus bertemu dengan mereka. Mengapa mereka
terpilih untuk menyakiti hati kita. Tapi hati kita menafikan jawaban
itu. Jawaban yang menjelaskan bahwa hidup tak melulu memberikan permen
kapas manis yang lumer di mulut. Tapi juga mengajarkan asam dan pahit.
Manusia, khususnya saya, terlalu egois untuk mendapatkan semua
permen-permen manis. Hidup menawarkan lemon yang asam. Tak perlu
mengutuki rasa masamnya, yang saya butuhkan hanyalah mengubah lemon itu
menjadi suatu yang menyenangkan. Dan mengubah itu menjadi perkara yang
lain pula.
Real life sepertinya lebih fiksi dari fiksi itu
sendiri. Dan saya adalah salah satu aktor dramanya. Seorang teman
berkata, sebenarnya tak ada perpisahan. Yang ada hanyalah orang-orang
itu menghilang. Mengutip
qoute yang entah dibuat oleh siapa,
Don't force things, let life decide what happens. If it's meant to be, then it will be. Just wait and see. Saatnya membuat
lemonade dan menjualnya :).