Lima dekade silam, Indonesia menjadi rebutan sengit antara dua
paham yang saling kontradiksi; sosialis-komunisme dan liberalisme.
Sosialis-komunisme memburuk-burukkan liberalisme dengan asosiasi picik
bahwa liberalisme adalah Barat, dan Barat adalah penjajah. Dengan kata
lain, liberalisme adalah jalan menuju neo-kolonialisme. Sementara
leberalisme memanfaatkan penolakan masyarakat Indonesia terhadap konsep
atheis-nya komunisme. Bahwa Indonesia adalah negeri ber-Tuhan, maka tak
boleh ada tempat bagi komunis.
Akan tetapi, situasi Indonesia
pada waktu itu tampaknya lebih menguntungkan paham yang pertama. Situasi
sosial misalnya, di mana masyarakat Indonesia yang kebanyakan buruh dan
pekerja jelata tentu saja sangat merasa
klop dengan sistem sosialis yang banyak memperjuangkan nasib mereka. Dari sisi politik, Soekarno sebagai
Commander in Chief
di Indonesia memiliki kepentingan tersendiri terhadap RRC (Republik
Rakyat Cina), negeri yang menjadi basis komunisme. Kepentingan itu salah
satunya yakni hasrat untuk membentuk
The New Emerging Force.
Tetapi pada tahun 1965, PKI (Partai Komunis Indonesia) yang merupakan
perpanjangan tangan komunisme di Indonesia melakukan kudeta dengan jalan
bengis. Kontan saja, pihak-pihak yang sudah lama menahan geram
mempunyai alasan untuk melampiaskan kemarahannya kepada partai
berlambang palu-arit itu. Dalam waktu sekejap, segala yang berbau
komunisme dibersihkan dengan jalan yang tak kalah keji. Saat itulah
liberalisme mendapat angin segar di Indonesia. Alhasil, banyak sistem
yang ada di Indonesia tampak sebagai akulturasi antara
sosialis-komunisme dan liberalisme. Lihat saja sistem ekonomi yang kita
anut, bukan sistem sosialis, bukan pula liberal, tetapi di
tengah-tengahnya.
Sosialis-komunisme mungkin tak punya celah
pengaruh lagi di Indonesia. Tapi liberalisme malah semakin kuat dari
hari ke hari. Rasa-rasanya, hal ini sedikit demi sedikit akan menggusur
sistem yang berada di tengah-tengah tadi ke arah liberalisme.
Saksikanlah bagaimana sikap lepas tangan pemerintah terhadap nasib
rakyat jelata yang tak diliput media. Bagaimana universitas-universitas
negeri di-BHMN-kan dengan alasan-alasan pragmatis. Bagaimana
dibiarkannya perusahaan-perusahaan asing yang mengelola SDA (Sumber Daya
Alam) Indonesia. Bagaimana banyaknya perusahaan-perusahaan strategis
yang didivestasi ke tangan asing. Bagaimana sistem kerja kontrak yang
ditolak pekerja kukuh bertahan.
Kenapa kita menjadi bangsa yang
mudah sekali terombang-ambing? Saya teringat waton jeplak-nya kawan
se-angkatan. Katanya, orang Indonesia adalah orang-orang dengan gen
campuran dari berbagai rumpun, bukan gen asli. Ketika mereka kawin
dengan orang Barat, anaknya lebih mirip Barat. Ketika menikah dengan
orang Arab, anaknya lebih terlihat berwajah Arab. Ketika berselingkuh
dengan orang Cina, anaknya lebih bermuka Cina.