Selasa, 04 Juni 2013

MALAIKAT BERNAMA IBU



Air mata itu tumpah juga, Ibu! Ketika malaikat gagah yang diutus menjadi imam bagimu, akhirnya Tuhan panggil kembali, untuk menggenapi bilangan takdir. Ayahku meninggal dunia pada 7 April 2004, pada sepertiga malam yang kedua. Aku tahu hatimu hancur, Ibu. Sangat hancur!!! Saat itu aku bersumpah: Nanti... saat aku punya matahari di tangan kananku, rembulan di tangan kiriku, akan ku kuberikan padamu demi tak kulihat lagi air mata itu.

Rupanya, Kau pun malaikat, Ibu! Kau tidak meminta langit kepadaku. Kau cuma ingin aku menjadi anak yang baik. Anak yang tidak lupa kepada tuhan. Sederhana sekali! Tapi sebagai iblis kecilmu, kadang-kadang hal itu malah kulanggar. Maafkan aku, Ibu... MAAFKAN AKU!!!

Maka kucoba mengambil hatimu, Ibu. Sebagai makhluk yang masih abu-abu, kutegakkan takbir mengimami solat jenazah ayahku. Tak kuizinkan pejabat-pejabat itu, kiai-kiai itu, bahkan dosen-dosen kolega ayahku itu, untuk berdiri di depanku. Tak boleh!!! Mereka harus menjadi makmum-ku hari itu. Lalu kulihat Kau tersenyum, Ibu. Masih dengan air mata. Kulihat ayah pun tersenyum. Tanpa air mata. Apakah Kalian telah memberikan ridho padaku?? Dalam senyum itu jelas kubaca: Ini lebih berharga daripada dunia dan isinya!!!

Kau adalah malaikat, Ibu! Hari-hari selanjutnya terasa menjadi lebih keras. Beberapa hal membuat air matamu itu tumpah lagi. Lebih sering oleh nestapa. Kadang-kadang juga karena bahagia. Lalu diam-diam kulihat Kau menjadi lebih sering mengadu dalam Dhuha dan Tahajjudmu. Kau mengandalkan tuhan untuk tiap hidup dan matimu. Kalau sudah begitu, nestapa mana lagi yang sanggup menantangmu???

Ibuku itu adalah seorang wanita yang pandai membungkus surga, lalu membawakan untukku taman-tamannya dalam hal-hal sederhana...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar