Rabu, 19 Juni 2013
NEGERI YANG BERTENDENSI
Lima dekade silam, Indonesia menjadi rebutan sengit antara dua paham yang saling kontradiksi; sosialis-komunisme dan liberalisme. Sosialis-komunisme memburuk-burukkan liberalisme dengan asosiasi picik bahwa liberalisme adalah Barat, dan Barat adalah penjajah. Dengan kata lain, liberalisme adalah jalan menuju neo-kolonialisme. Sementara leberalisme memanfaatkan penolakan masyarakat Indonesia terhadap konsep atheis-nya komunisme. Bahwa Indonesia adalah negeri ber-Tuhan, maka tak boleh ada tempat bagi komunis.
Akan tetapi, situasi Indonesia pada waktu itu tampaknya lebih menguntungkan paham yang pertama. Situasi sosial misalnya, di mana masyarakat Indonesia yang kebanyakan buruh dan pekerja jelata tentu saja sangat merasa klop dengan sistem sosialis yang banyak memperjuangkan nasib mereka. Dari sisi politik, Soekarno sebagai Commander in Chief di Indonesia memiliki kepentingan tersendiri terhadap RRC (Republik Rakyat Cina), negeri yang menjadi basis komunisme. Kepentingan itu salah satunya yakni hasrat untuk membentuk The New Emerging Force. Tetapi pada tahun 1965, PKI (Partai Komunis Indonesia) yang merupakan perpanjangan tangan komunisme di Indonesia melakukan kudeta dengan jalan bengis. Kontan saja, pihak-pihak yang sudah lama menahan geram mempunyai alasan untuk melampiaskan kemarahannya kepada partai berlambang palu-arit itu. Dalam waktu sekejap, segala yang berbau komunisme dibersihkan dengan jalan yang tak kalah keji. Saat itulah liberalisme mendapat angin segar di Indonesia. Alhasil, banyak sistem yang ada di Indonesia tampak sebagai akulturasi antara sosialis-komunisme dan liberalisme. Lihat saja sistem ekonomi yang kita anut, bukan sistem sosialis, bukan pula liberal, tetapi di tengah-tengahnya.
Sosialis-komunisme mungkin tak punya celah pengaruh lagi di Indonesia. Tapi liberalisme malah semakin kuat dari hari ke hari. Rasa-rasanya, hal ini sedikit demi sedikit akan menggusur sistem yang berada di tengah-tengah tadi ke arah liberalisme. Saksikanlah bagaimana sikap lepas tangan pemerintah terhadap nasib rakyat jelata yang tak diliput media. Bagaimana universitas-universitas negeri di-BHMN-kan dengan alasan-alasan pragmatis. Bagaimana dibiarkannya perusahaan-perusahaan asing yang mengelola SDA (Sumber Daya Alam) Indonesia. Bagaimana banyaknya perusahaan-perusahaan strategis yang didivestasi ke tangan asing. Bagaimana sistem kerja kontrak yang ditolak pekerja kukuh bertahan.
Kenapa kita menjadi bangsa yang mudah sekali terombang-ambing? Saya teringat waton jeplak-nya kawan se-angkatan. Katanya, orang Indonesia adalah orang-orang dengan gen campuran dari berbagai rumpun, bukan gen asli. Ketika mereka kawin dengan orang Barat, anaknya lebih mirip Barat. Ketika menikah dengan orang Arab, anaknya lebih terlihat berwajah Arab. Ketika berselingkuh dengan orang Cina, anaknya lebih bermuka Cina.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar